Sampai Jumpa Semarang

14 Maret 2013, saya resmi meninggalkan Semarang. Kalau dihitung memang belum ada sebulan. Tapi rasanya sudah kangen dengan rutinitas yang biasa dilakukan. Mulai dari kuliah, makan dan masih banyak lagi. Terkadang masih merasa canggung. Padahal rasanya baru kemarin, tapi ternyata sudah 4 tahunan. Cepet. Memang terasa cepat sekali. Saya saja masih belum tahu semua daerah Semarang.

Nah ini, salah satu kelemahan saya. Susah buat ngapalin rute. Rute paling hafal ya dari kosan ke kampus. Rute lainnya, masih bingung. Memang selama di semarang jarang keluar. Kalau mau keluar siang, panasnya bukan main. Giliran malam, waktunya pendek. Lebih banyak menghabiskan waktu di kosan. Entah untuk apa pun itu. Beda dengan adik saya. Dia paling doyan kalau main. Kemarin saja mentang – mentang libur, pulang malem terus. Keseringan nongkrong dia. Sedangkan saya, mentok juga nongkrong di kamar mandi.

Saya juga tidak bisa menghapal nama daerah yang pernah saya lewati. Kalau teman – teman pada ngobrol “di daerah ….. ada ini lho…..” ujungnya saya pasti bilang “di mana itu?”. Ini saya juga tidak tahu kenapa begini. Tapi ini bukan masalah lagi sekarang. Sekarang kan sudah ada yang namanya GPS. Kita bisa tahu arah dan tujuan kita mau jalan [bukan arah dan tujuan hidup]. Kalau memang tidak memungkinkan pakai GPS, pakai cara tradisional. Tukang Parkir. Tanyalah tukang parkir. Kebanyakan dari mereka tahu daerah yang akan kita tuju. Kalau mereka tidak tahu, berarti anda belum beruntung. Silahkan coba lagi.

Kehidupan dikosan juga bikin kangen. Walaupun yang punya kosan agak resek. Kalau dikosan paling gawat itu pas mandi. Entah itu mandi pagi, siang, sore atau malam. Horor pokoknya. Harus berhati – hati. Bukan karena kamar mandinya angker. Tapi suka ada jebakan betmen. Bisa sepatu jatuh dari atas. Alat pel bisa nimpuk sendiri. Ya begitulah, memang ada – ada saja kelakuan anak – anaknya.

Kalau ditanya obyek wisata di Semarang, saya juga belum mengunjungi semuanya. Padahal kalau dihitung, 4 tahun waktu yang cukup. Saya baru tahu lawang sewu [pintu seribu]. Ada kota lama. Museum Ronggowarsito yang sering dilewati juga belum pernah saya kunjungi. Lali ada klenteng Sam Poo Kong. Belum juga itu. Kalau di tanya menyesal atau tidak, ya memang agak sedikit menyesal. Tapi nanti juga pasti bisa saya kunjungi lagi.

Kuliner. Saya belum bisa banyak bicara untuk kuliner. Sama seperti tempat wisata. Saya belum banyak mencicipi kuliner yang ada. Yang terkenal Bandeng presto, Lumpia, sama Wingko babat. Itu yang saya tahu. Selebihnya, belum tahu.

Sekarang baru terasa pas sudah tidak di Semarang. Semoga ada kesempatan lain untuk saya bisa mengunjungi dan bernostalgia di Semarang.

Sampai Jumpa Semarang.

3 thoughts on “Sampai Jumpa Semarang”

  1. Terus sekarang tinggal dimana Her?
    Kemaren2 sempet pengen ke semarang tapi kayanya semua orang yang cerita tentang semarang pada bilang panas, jadi saya mengurungkan niat jalan2 kesana deh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s