Postingan tentang Sakit

Dari kecil sampai sekarang saya bisa dibilang jarang untuk yang namanya sakit. Saya pernah mendapat  pelajaran masalah genetika dominan dan resesif semasa SMA. Kalau tidak salah ingat orang hitam itu gen nya dominan, dan cenderung lebih kuat . Mungkin itu salah satu alasannya. Salah lainnya? salah lainnya karena saya takut. Bukan takut dokter. Takut jarum suntik. Iya jarum suntik. Saya jadi takut jarum suntik gara – gara pernah disuntik sewaktu kecil dan hasilnya bengkak. Sejak saat itu saya jadi takut disuntik. Ada untungnya juga saya takut jarum. Jadi bisa men-sugesti saya kalau merasa mau sakit. Akhirnya penyakit mental.

Sebenarnya untuk urusan takut jarum saya tidak sendirian. Ada teman sekolah yang mungkin lebih parah dari saya. Semuanya terbongkar saat praktikum biologi. Saat itu praktikum pemeriksaan golongan darah. Masing – masing siswa diambil sampel darah. Caranya dengan disuntik ujung jarinya. Walaupun sudah tahu golongan darah, sampai saat ini saya belum pernah sekali pun menjadi donor darah. Kenapa? Alasannya cuma satu itu, takut jarum.

Tapi, berbeda dengan kemarin. Masa – masa pasca TA, akhirnya saya tumbang. Sakitlah saya. Awalnya saya merasa sakit biasa saja. Disuruh periksa ke dokter tidak mau. Paling masuk angin, alasan. Tapi sudah seminggu ternyata belum membaik juga. Malah saya merasa semakin parah. Semakin susah makan.

Akhirnya saya mau ke dokter juga. Mau bagaimana lagi, semakin parah. Tapi saya tidak mau disuntik [dalam hati saya bertekad]. Sampai di tempat dokter saya benar – benar mengatakannya.

“jangan di suntik ya dok, saya tidak mau disuntik”

Dokternya cuma ketawa kecil. Saya tidak peduli yang penting saya tidak di suntik. Dari hasil pemeriksaan saya positif terkena gejala tipes. Terbaring cukup lama, satu bulan lebih mungkin.

Selama sakit hal yang paling menyiksa adalah makan. Saat perut lapar, tapi mulut tak mau bersahabat. Padahal kalau orang sakit itu pasti disediakan berbagai macam makanan. Makanan yang luar biasa dari hari biasa. Kalau pun request [request sudah kayak lagu aja] juga pasti langsung dibelikan. Yang saya heran, orang sakit kan susah makan, tapi selalu disediakan makan yang enak. Itu justru makin menyiksa orang sakit. Cuma bisa memandang tapi tidak bisa menikmati. Itu ujiannya dua kali kalau lagisakit. Pertama ujian menahan sakitnya sendiri. Kedua ujian menahan nafsu makannya karena tidak bisa makan. Padahal saat melihat makanan di pikiran itu sudah terbayang bagaiamana rasa enaknya. Tapi saat sudah di mulut, semua bayangan itu musnah. Sirna. Tidak sesuai dengan bayangan.

Lebih baik tidak usah berlebihan memberi makanan orang sakit. Nanti mubadzir. Tidak dimakan. Yang makan malah yang jagain mungkin. Memang niatnya baik, supaya merangsang yang sakit biar mau makan. Tapi tidak efektif , justru menyiksa menurut saya. Bagaimana tidak, yang sakit cuma bisa melihat. Tidak bisa makan.

4 thoughts on “Postingan tentang Sakit”

  1. huahaha, saya juga takut jarus suntik. pernah diopname juga karena tipus, terus terpaksa diinfus dan sehari sekali periksa darah, punggung tangan dan lipatan lengan sampai biru-biru kaya memar. hiiiihhh :-O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s