Kacamata Patah

Hari ini tepat hari sabtu. Biasanya kalau sabtu gini persewaan banker gue laku. Buat apalagi coba kalau bukan buat sembunyi para lelaki dan wanita yang masih sendiri (baca:jomblo). Bisa jadi juga hari ini bakalan hujan lagi. Tapi mungkin juga bisa cerah. Tergantung mana yang lebih hebat, tarian pemanggil hujan para tuna asmara atau doa para pasangan yang sedang kasmaran.

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah kejadian yang menimpa gue. Kejadian ini cukup menghebohkan, lebih heboh dari anggota DPRD yang mendadak terkenal di dunia burung. Kejadian ini jarang terjadi, tapi terjadi lagi. Kenapa lagi, ya karena memang sebelumnya udah pernah kejadian. Benar – benar sebuah kejadian yang ngga terduga. Bahkan tukang ramlan eh ramal pun ngga bisa memprediksi kejadian ini.

Waktu itu, tepatnya hari minggu. Bisa jadi juga senin. Atau malah selasa. Mungkin juga rabu. Ah pasti kamis saja. Jumat itu boleh juga hari baik. Sabtu boleh kalau mau. Pokoknya diantara salah satu hari – hari itu. Tepatnya pukul 09.21.56 pada waktu setempat. Berhubung tempatnya masih di wilayah Indonesia bagian barat, jadi ya WIB.

IMG_0035

Hati Kacamata gue PATAH.

 Untuk kesekian kalinya hati kacamata gue patah lagi. Kacamata hitam dengan frame lebar itu patah. Tenang aja, ngga kayak hati gue kok yang patahnya udah terlalu sering. Berkeping – keping malah #eh. Cuma kalau kacamata gue patahnya jadi dua aja ngga berkeping – keping.

Kacamatanya emang udah lama gue pakai, jadi wajar aja kalau udah saatnya patah. Udah gue pakai dari 2 hari yang lalu. Kok udah patah lagi aja???!!!!! Apa yang salah dengan gue coba????!!!! Cukup, ngga usah ditanyakan pada rumput yang bergoyang, cukup om ebit aja yang nanya sama rumputnya, kalian ngga usah.

Dari kelas 2 sma gue udah mulai pakai kacamata. Padahal harusnya gue pakai kacamata lebih awal lagi dari sejak lahiran. Tapi gue baru berani pakai pas kelas 2 sma. Pas udah kepepet. Karena apa, karena gue takut.

Nyokap gue orangnya baik. Kalau pagi suka masakin gue sarapan. Siang suka ngasih makan siang, malamnya suka ngebeliin gue makan malam. Tiap hari juga dikasih uang jajan kalau ngga libur. Itulah bedanya nyokap gue dari nyokap – nyokap yang lain.

Trus apa hubungannya nyokap baik sama gue pakai kacamata?

Gini, waktu kecil, gue termasuk bocah laki – laki yang gampang banget bahagia. Dulu gue emang belum tahu kalau bahagia itu ternyata emang sederhana. Cukup duduk didepan tv tiap minggu pagi sampai siang, buat nonton maraton kartun. Hal itu gue lakuin berkali – kali, meskipun berkali – kali juga nyokap udah bilangin gue jangan terlalu lama nonton tv dengan alasan nanti matanya cepet rusak. Alasan ini pulalah yang bikin gue takut ngomong ke nyokap kalau mata gue udah minus, dan harus pakai kacamata. Sampai gue kelas 2 sma. Gue baru berani ngomong.

Awalnya nyokap emang marah. Dibilang gara – gara nonton tv terus – terusan lah. Dibilang karena kebanyakan baca buku sambil tiduran lah (padahal baca buku sambil tiduran itu memang pewe asli, kenapa harus dimarahin juga). Tapi setelah dokter menjelaskan penyebab mata gue minus, akhirnya nyokap sadar, kalau memang nenek dan kakek gue juga udah pakai kacamata. Dari SD malah. Jadilah nurun ke gue dan adik gue.

Awalnya gue pakai kacamata dengan frame yang kecil. Dan itupun gue masih malu – malu buat pakai di sekolah. Gue pakai Cuma kalau dikelas. Dan kalau pas kebagian duduk dibelakang. Selebihnya, gue simpen. Maklum, jaman gue sma dulu itu jaman sebelum masehi, jarang orang pakai kacamata, jadi sekalinya ada yang pakai kacamata keliatannya pada heran aja. Hingga sampai awal kuliah gue ganti model kacamata.

Pakai kacamata dengan frame lebar membuat pandangan gue jadi lebih luas. Semoga pikiran gue juga luas dan dada gue juga luas. Jadi bisa makin banyak yang bersandar didada gue muahahahahaaahaa. Ehem, bukan itu maksutnya, tapi dada yang luas itu ya dada yang lapang. Jadi orang yang lebih sabar.

Kacamata yang lama gue ganti yang baru. Yang lama rusak. Iya, gue lebih sering ngerusakin kacamata dari pada ngerusakin hati anak orang. Seringnya malah hati gue yang dirusak – rusak.

Kacamata pertama gue yang rusak, lensanya lepas dari framenya. Mereka bertengkar. Terlalu hebat pertengkarannya sampai tak dapat disatukan lagi. Akhirnya si lensa memilih berjalan sendiri untuk meneruskan hidupnya dan si frame pun bunuh diri. Kacamata berikutnya yang rusak, patah di kaki kacamatanya. Eh bener kan itu namanya kaki kacamata. Patahnya dibagian kaki sebelah kiri. Berikutnya juga sama, patah kakinya. Tapi kali ini patahnya sebelah kanan. Kalau ditanya kok bisa? Gue Cuma bisa angkat bahu buat ngejawabnya. Mana gue tahu coba. Kan Cuma gue pakai lepas pakai lepas pakai lepas pakai lepas pakai lepas, gitu aja seterusnya.

Berkali – kali patah kacamatanya itu sakitnya disini *nunjukkantongcelanabelakangsebelahkanan.

Berkali – kali patah hatinya itu sakitnya disini disini disini disini *nunjukseluruhbadan.

Tapi untungnya hati itu beda sama kacamata. Kacamata kalau patah emang harus diganti. Hati ngga perlu begitu. Kita ngga perlu ganti hati kalau abis ditolak atau abis putus. Memangnya siapa juga yang jualan hati body shop juga ngga jualan hati. Hati kita itu kuat. Lebih kuat dari baja. Lebih kuat juga dari berlian. Kuat bukan karena ngga bisa dipatahin atau dihancurin. Tapi kuat karena bisa sembuh sendiri. Setelah berkali – kali patah.

2 thoughts on “Kacamata Patah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s