Menunggu Pagi

Aku lupa caranya memejamkan mata. Ratusan bahkan ribuan domba yang kuhitung dalam gelap tak mampu membutaku terlelap.

Dingin malam tak lagi dapat kurasakan. Hanya sunyi, sepi dan kesendirian yang semakin lama makin dalam kurasakan.

Jiwaku tak tenang, denyut jantungku tak beraturan. Hati ini seperti berlubang, luka entah karena apa sakit entah karena siapa.

Ruang utama itu masih kubiarkan terbuka. Ruang sederhana tak berjendela, tempat kita bisa bercerita sampai pagi buta.

Aku masih menantimu di sana. Aku hanya tak rela, bila bukan kamu yang ada di dalamnya.

Meski tak tahu harus berapa lama lagi aku menanti. Demi kamu, aku sudi lakukan itu berkali – kali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s