Pesan sederhana untuk kamu yang beranjak dewasa

Jatuh cinta.
Tentu saja kamu boleh jatuh cinta.
Kepada siapapun kamu jatuh cinta nantinya,
jaga dia sebaik – baiknya.
Jika tidak bisa membuatnya selalu tertawa,
setidaknya jangan biarkan dia meneteskan air mata. Dan,
berusahalah untuk selalu peka pada dia.

Tapi, perlu kamu tahu.
Cinta itu tidak hanya ada tawa.
Tidak melulu bahagia yang dibawanya.
Biasanya,
bersamanya datang pula kesedihan yang mungkin suatu saat akan kamu rasakan.

Jika saat itu tiba,

Kamu boleh bersedih sepuasnya.

Tapi jangan terlalu lama.
Ambil pelajaran setelahnya.
Lalu bangkit, masih banyak hal lainnya yang perlu kamu coba.
Selain jatuh cinta.

Untuk kamu yang mulai mengenal cinta, selamat bertambah usia. Selamat datang di dunia orang dewasa.

Advertisements

Puisi pertama kali

Gue ngga inget kapan pertama kali bikin puisi. Malahan gue selalu ngga bisa kalau disuruh bikin puisi. Apalagi suruh bacain.

Satu hal yang gue inget dari puisi adalah pelajaran bahasa indonesia. semasa sma, pas jam pelajaran bahasa indonesia, gue dan temen – temen pernah bolos rame – rame. Tapi anak laki – lakinya doang.

Tiap jam duhur di sma gue banyak yang pada ngadem di masjid selesai sholat. Mereka pada ibadah (baca:tidur). Tapi emang adem masjidnya. Ngga heran, ketika siang itu ada rumor jam pelajaran bahasa indonesia kosong  (jadwal pelajaran bahasa indonesianya sehabis istirahat kedua atau setelah duhur), semua anak – anak laki satu kelas pada ke masjid. Kita sepakat untuk ibadah bersama. Karena ibadah berjamaah lebih besar pahalanya dari pada sendiri – sendiri.

Asik beribadah dan merasa udah mau jam pulang, akhirnya kita balik ke kelas. Sampai depan kelas kita semua melongo. Tentu saja berjamaah pula. Di meja guru ada bapak guru bahasa indonesia yang lagi ngajar. Kita semua ditanya dari mana, dan setelahnya kita cuma disindir – sindir karena bolos pelajaran. Ternyata pelajaran siang itu ngga jadi kosong.

Ngga usah heran kenapa kita semua ngga pada dihukum. Karena emang tadinya gurunya ngga bisa ngajar karena mau ada urusan, tapi ternyata urusannya yang ngga jadi dan ngajarnya yang jadi.

Balik lagi ke puisi. Gue emang ngga inget mana puisi yang pertama kali gue bikin. Dan ngga usah tanya juga kenapa ngga inget. Iya, gue tahu mungkin faktor U. Tapi tenang, sebagai gantinya gue selalu inget satu puisi yang sampai saat ini menjadi favorit gue. Pernah juga gue post disini. Nih

Kepada kamu yang pernah berbagi pagi

Selamat malam, selamat menikmati.

Sebait doa untuk kamu yang baru saja bertambah usia

Menjadi dewasa itu tidak mudah bukan. Tidak seperti yang dibayangkan. Tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan, apalagi permen kesukaan.
Terkadang hidup memang menyebalkan. Mengesalkan. Menjengkelkan. Saat  sepatu yang ingin kamu beli sudah tak ada lagi. Saat semua yang kamu rencanakan tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan.
Tapi percayalah, Tuhan selalu memberikan apa yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan.
Seperti seseorang yang saat ini ada di sisimu.
Kata “Tidak” darinya bukan berarti dia melarangmu. Sebaliknya. Dia justru sangat menyayangimu. Dia tak ingin memberikanmu seadanya, tapi dia akan memberikanmu semua yang terbaik yang dia punya.
Jangan pernah ragu akan rasa yang dia punya. Memang, dia cuma manusia biasa. Ingatkan dia sesekali jika dia berbuat dosa.
Selamat berbahagia untuk kamu yang baru saja bertambah usia. Selamat menjadi dewasa. Selamat menjalani hari – hari penuh warna bersamanya.

Menunggu Pagi

Aku lupa caranya memejamkan mata. Ratusan bahkan ribuan domba yang kuhitung dalam gelap tak mampu membutaku terlelap.

Dingin malam tak lagi dapat kurasakan. Hanya sunyi, sepi dan kesendirian yang semakin lama makin dalam kurasakan.

Jiwaku tak tenang, denyut jantungku tak beraturan. Hati ini seperti berlubang, luka entah karena apa sakit entah karena siapa.

Ruang utama itu masih kubiarkan terbuka. Ruang sederhana tak berjendela, tempat kita bisa bercerita sampai pagi buta.

Aku masih menantimu di sana. Aku hanya tak rela, bila bukan kamu yang ada di dalamnya.

Meski tak tahu harus berapa lama lagi aku menanti. Demi kamu, aku sudi lakukan itu berkali – kali.

Untuk kamu yang selalu datang dan pergi sesuka hati

Untuk kamu yang hari ini datang. Aku senang.

Senang bisa menghabiskan hari ini denganmu. Aku ngga peduli sama apa yang kita lakuin. Apapun itu ngga penting lagi buatku. Karena yang penting bagiku, hari ini aku sama kamu.

Waktu yang kita habiskan bersama, jadi termat berharga. Sampai tak terasa, senja kini sudah bergganti menjadi malam.

Andai saja aku punya kekuatan atau pun alat untuk menghentikan waktu. Sehingga hari ini ngga akan ngga akan menjadi hari kemarin.

Untuk kamu yang akan pergi. Haruskah? Haruskah kamu pergi lagi?

Tentu saja kamu harus pergi lagi. Harusnya ngga perlu aku tanyakan lagi itu. Aku lupa. Bahwa nyatanya bukan aku lelaki yang kamu sayangi. Meskipun kamu tahu, kamulah yang aku sayangi.

Kenapa kamu selalu datang dan pergi sesuka hati? Datang seolah – olah memberikan harapan. Padahal ngga. Kamu datang, mungkin karena kamu ingin saja.

Apakah kamu tahu, kalau aku masih suka dan sayang sama kamu?

Kalau emang kamu tahu, seharusnya kamu ngga seperti itu. Datang dan pergi sesuka hatimu.

Seperti permainan bola, aku ini ibarat pemain cadangan yang dimainkan bila pemain intinya lagi ngga ada. Bukan itu yang aku mau. Aku mau, akulah pemain inti buatmu. Bisa bermain bersamamu sampai pertandingan selesai. Aku ingin menjadi pemain inti yang bahkan ngga akan pernah kamu ganti.

Untuk kamu, wanita yang selalu datang dan pergi sesuka hati.

aku harap esok kamu datang lagi. Dan ngga akan pergi lagi.

Perihal Kepergian

#perihalkepergian memang tidak bisa diperkirakan. Sementara atau selamanya bukan kita yang menentukan.

#perihalkepergian sekarang, esok atau lusa tak ada orang yang mampu berbicara menjawabnya.

#perihalkepergian percayalah, ini air mata bahagia. Bukan karena kami merana atau tidak rela.

#perihalkepegian menyisakan kenangan, harapan yang tinggal angan dan setumpuk rindu yang tak berkesudahan.

#perihalkepergian hari tak kan berhenti disini. Kami harus bersiap untuk melangkahkan kaki kembali, menyambut esok pagi.

#perihalkepergian mungkin sesekali kita bisa bertemu. Aku yang akan menjamu, di ruang semu. Mimpi.

#perihalkepergian yang tak mampu dihindarkan, sejauh apapun kaki kami langkahkan, kami akan pulang. Bila waktunya nanti datang

#perihalkepergian kamu yang memilih meninggalkan. Tanpa memberikan alasan, kamu mantap berjalan ke depan.

#perihalkepergian apakah aku diduakan? Atau kamu berfikir aku menduakan? Ah, sudahlah. Lupakan.

#perihalkepergian aku hanya bisa menerka tanpa tahu mengapa. Aku hanya bisa mengira tanpa tahu sebabnya.

 

dia bilang :

#perihalkepergian apa kabar bahagiamu? Adakah tamu yang berkunjung untuk menjadi tuan rumah baru? Menetap bukan menitip.

#perihalkepergian tak ada bandara megah. Perpisahan hanyalah sebatas bayangmu depan rumah di kala petang, yang saat itu aku menutup mata.

#perihalkepergian -nya adalah cerita untuk dikenang, nanti. Saat minum kopi atau saat bangun pagi bersama yang (dirasa) tak akan pergi.

#perihalkepergian kala rindu begitu menusuk. Bacalah puisi hingga tertidur. Temui aku, dalam surga yang sejenak menghitungmu mundur.

#perihalkepergian ia begitu tergesa-gesa. Padahal, ada yang tertinggal dalam hati ; bagaimana cara melupakan yang begitu menyesakkan.

#perihalkepergian tak akan lama, hati. Ini bukan kematian sehingga tak lagi bicara. Bertemu nanti, dalam peluk berhari-hari.

#perihalkepergian adalah wewangianmu, yang rasanya sulit untuk melepas jauh. Adalah sebuah jarak, yang menghentikan wangi itu.

#perihalkepergian segera pulang. Kembali duduk di ruang makan untuk ku sajikan makan malam. Atau adakah disana yang melakukannya?

#perihalkepergian kota ini ditinggalkan kamu, si manusia bau matahari. Setiap hari berpeluk polusi. Hingga pergi dalam lari menyendiri.

#perihalkepergian untukmu ku beri rindu. Disimpan dan dibuka suatu waktu saat perlu. Pakailah, karena perasaan begitu sering terlupakan.

 

Perihal kepergian ini lagi – lagi puisi pendek yang udah gue dan caca tulis di twitter. Tulisan dengan warna biru itu tulisan caca. Selain ini ada juga :

Kita bukan mereka 

Cinta memang soal rasa

Sedikit lupa dunia

Mendadak aku lupa, entah sekarang hari apa.
Seingatku kalau kemarin senin, seharusnya hari ini selasa.
Aku juga tidak mengira kalau di luar sedang hujan atau hanya cerah berawan. Aku tak bisa meyakinkan.
Bukannya pikun atau pelupa, aku hanya sedang terlalu bahagia.
Dia yang kemarin ada dalam doa, kini sudah di depan mata.
Maaf aku sedikit lupa dunia.