Tamasya : Galeri Foto Jurnalistik Antara

Mungkin gue agak telat posting ini, tapi biarlah.

Gini, tiap kali ke pasar baroe (baca:baru) gue selalu mampir ke tempat makan bakmi enak. Apalagi coba yang enak kalau bukan pangsit gorengnya. #plaaaakk *ditampar hidup – hidup gue. Orang ke tempat bakmi mah makan bakminya, bukan cuma nyari pangsitnya, apalagi yang digoreng.Tapi asli enak pangsit gorengnya *tetep ngotot. Bakmi gang kelinci namanya. Tapi gue ngga mau ngomongin itu kali ini.

Di pasar baru selain ada bakmi gang kelinci ada juga galeri foto jurnalistik antara (gfja) . Sebenernya udah cukup lama gue tahu tempat ini. Tapi, baru masuk dan lihat – lihat beberapa waktu yang lalu. Itu pun ngga sengaja alias dadakan.

Continue reading Tamasya : Galeri Foto Jurnalistik Antara

Advertisements

Sebait doa untuk kamu yang baru saja bertambah usia

Menjadi dewasa itu tidak mudah bukan. Tidak seperti yang dibayangkan. Tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan, apalagi permen kesukaan.
Terkadang hidup memang menyebalkan. Mengesalkan. Menjengkelkan. Saat  sepatu yang ingin kamu beli sudah tak ada lagi. Saat semua yang kamu rencanakan tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan.
Tapi percayalah, Tuhan selalu memberikan apa yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan.
Seperti seseorang yang saat ini ada di sisimu.
Kata “Tidak” darinya bukan berarti dia melarangmu. Sebaliknya. Dia justru sangat menyayangimu. Dia tak ingin memberikanmu seadanya, tapi dia akan memberikanmu semua yang terbaik yang dia punya.
Jangan pernah ragu akan rasa yang dia punya. Memang, dia cuma manusia biasa. Ingatkan dia sesekali jika dia berbuat dosa.
Selamat berbahagia untuk kamu yang baru saja bertambah usia. Selamat menjadi dewasa. Selamat menjalani hari – hari penuh warna bersamanya.

Kopi

Kopi malam ini meski sudah ditambah gula tetap saja ada pahit yang tak bisa disembunyikan. Masih saja kunikmati dan kuhabiskan perlahan. Seperti aku menikmati setiap inchi hati yang kupatahkan sendiri. Cukup. Mungkin ini cangkir kopi terakhir untuk malam ini.

Menunggu Pagi

Aku lupa caranya memejamkan mata. Ratusan bahkan ribuan domba yang kuhitung dalam gelap tak mampu membutaku terlelap.

Dingin malam tak lagi dapat kurasakan. Hanya sunyi, sepi dan kesendirian yang semakin lama makin dalam kurasakan.

Jiwaku tak tenang, denyut jantungku tak beraturan. Hati ini seperti berlubang, luka entah karena apa sakit entah karena siapa.

Ruang utama itu masih kubiarkan terbuka. Ruang sederhana tak berjendela, tempat kita bisa bercerita sampai pagi buta.

Aku masih menantimu di sana. Aku hanya tak rela, bila bukan kamu yang ada di dalamnya.

Meski tak tahu harus berapa lama lagi aku menanti. Demi kamu, aku sudi lakukan itu berkali – kali.

Untuk kamu yang selalu datang dan pergi sesuka hati

Untuk kamu yang hari ini datang. Aku senang.

Senang bisa menghabiskan hari ini denganmu. Aku ngga peduli sama apa yang kita lakuin. Apapun itu ngga penting lagi buatku. Karena yang penting bagiku, hari ini aku sama kamu.

Waktu yang kita habiskan bersama, jadi termat berharga. Sampai tak terasa, senja kini sudah bergganti menjadi malam.

Andai saja aku punya kekuatan atau pun alat untuk menghentikan waktu. Sehingga hari ini ngga akan ngga akan menjadi hari kemarin.

Untuk kamu yang akan pergi. Haruskah? Haruskah kamu pergi lagi?

Tentu saja kamu harus pergi lagi. Harusnya ngga perlu aku tanyakan lagi itu. Aku lupa. Bahwa nyatanya bukan aku lelaki yang kamu sayangi. Meskipun kamu tahu, kamulah yang aku sayangi.

Kenapa kamu selalu datang dan pergi sesuka hati? Datang seolah – olah memberikan harapan. Padahal ngga. Kamu datang, mungkin karena kamu ingin saja.

Apakah kamu tahu, kalau aku masih suka dan sayang sama kamu?

Kalau emang kamu tahu, seharusnya kamu ngga seperti itu. Datang dan pergi sesuka hatimu.

Seperti permainan bola, aku ini ibarat pemain cadangan yang dimainkan bila pemain intinya lagi ngga ada. Bukan itu yang aku mau. Aku mau, akulah pemain inti buatmu. Bisa bermain bersamamu sampai pertandingan selesai. Aku ingin menjadi pemain inti yang bahkan ngga akan pernah kamu ganti.

Untuk kamu, wanita yang selalu datang dan pergi sesuka hati.

aku harap esok kamu datang lagi. Dan ngga akan pergi lagi.

Perihal Kepergian

#perihalkepergian memang tidak bisa diperkirakan. Sementara atau selamanya bukan kita yang menentukan.

#perihalkepergian sekarang, esok atau lusa tak ada orang yang mampu berbicara menjawabnya.

#perihalkepergian percayalah, ini air mata bahagia. Bukan karena kami merana atau tidak rela.

#perihalkepegian menyisakan kenangan, harapan yang tinggal angan dan setumpuk rindu yang tak berkesudahan.

#perihalkepergian hari tak kan berhenti disini. Kami harus bersiap untuk melangkahkan kaki kembali, menyambut esok pagi.

#perihalkepergian mungkin sesekali kita bisa bertemu. Aku yang akan menjamu, di ruang semu. Mimpi.

#perihalkepergian yang tak mampu dihindarkan, sejauh apapun kaki kami langkahkan, kami akan pulang. Bila waktunya nanti datang

#perihalkepergian kamu yang memilih meninggalkan. Tanpa memberikan alasan, kamu mantap berjalan ke depan.

#perihalkepergian apakah aku diduakan? Atau kamu berfikir aku menduakan? Ah, sudahlah. Lupakan.

#perihalkepergian aku hanya bisa menerka tanpa tahu mengapa. Aku hanya bisa mengira tanpa tahu sebabnya.

 

dia bilang :

#perihalkepergian apa kabar bahagiamu? Adakah tamu yang berkunjung untuk menjadi tuan rumah baru? Menetap bukan menitip.

#perihalkepergian tak ada bandara megah. Perpisahan hanyalah sebatas bayangmu depan rumah di kala petang, yang saat itu aku menutup mata.

#perihalkepergian -nya adalah cerita untuk dikenang, nanti. Saat minum kopi atau saat bangun pagi bersama yang (dirasa) tak akan pergi.

#perihalkepergian kala rindu begitu menusuk. Bacalah puisi hingga tertidur. Temui aku, dalam surga yang sejenak menghitungmu mundur.

#perihalkepergian ia begitu tergesa-gesa. Padahal, ada yang tertinggal dalam hati ; bagaimana cara melupakan yang begitu menyesakkan.

#perihalkepergian tak akan lama, hati. Ini bukan kematian sehingga tak lagi bicara. Bertemu nanti, dalam peluk berhari-hari.

#perihalkepergian adalah wewangianmu, yang rasanya sulit untuk melepas jauh. Adalah sebuah jarak, yang menghentikan wangi itu.

#perihalkepergian segera pulang. Kembali duduk di ruang makan untuk ku sajikan makan malam. Atau adakah disana yang melakukannya?

#perihalkepergian kota ini ditinggalkan kamu, si manusia bau matahari. Setiap hari berpeluk polusi. Hingga pergi dalam lari menyendiri.

#perihalkepergian untukmu ku beri rindu. Disimpan dan dibuka suatu waktu saat perlu. Pakailah, karena perasaan begitu sering terlupakan.

 

Perihal kepergian ini lagi – lagi puisi pendek yang udah gue dan caca tulis di twitter. Tulisan dengan warna biru itu tulisan caca. Selain ini ada juga :

Kita bukan mereka 

Cinta memang soal rasa